Pendidikan Karakter Anak Usia Pra Remaja - Cantrik.COM

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Kamis, 24 Mei 2018

Pendidikan Karakter Anak Usia Pra Remaja

Pagi (24/05/2018) saya merasa tertampar keras dengan pemberitaan siswa SD menghamili siswi SMP. Terbesit pertanyaan, ada apa dengan remaja masa kini?
Masa remaja adalah masa transisi, seperti penjelasan yang saya kutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Remaja. Remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Oleh karena itu, pergaulan para remaja seharusnya mendapat perhatian ekstra. Lebih-lebih saat mereka sudah tertarik dengan lawan jenis. Tugas siapakah itu?
1.    Orang tua
Orang tua menjadi peletak pondasi pertama karakter anak. Pendidikan yang diperoleh anak-anak selama di rumah bersumber dari orang tua. Orang tua yang peduli, penuh kasih sayang, dan perhatian terhadap anak akan membuat anak bersikap sama seperti orang tuanya. Sebaliknya, orang tua yang abai dan kurang perhatian terhadap anak akan membuat anak bersikap yang sama pula. Perlu menjadi perhatian kita bahwa penanaman nilai-nilai karakter pada anak itu bersumber dari teladan orang tua. Oleh karena itu, orang tua harus memberikan contoh yang baik dan juga mengarahkan anak-anaknya menuju kebaikan. Apabila anak sudah mengenal lawan jenis, peran orang tua sangatlah penting untuk dapat membimbing. Orang tua mencoba untuk terbuka dan bertanya pada anak mengenai kedekatan dengan lawan jenis. Paling tidak orang tua tahu sejauh mana hubungan kedekatan mereka. Anak diberi arahan yang baik sehingga tidak terjerumus pada hal-hal negatif. Pembiaran akan berdampak buruk dan menjadikan anak merasa bebas melakukan sesuatu yang sebetulnya belum saatnya mereka lakukan. Beri anak aturan dan tanggung jawab dalam pergaulannya agar tidak melanggar norma dan aturan agama, serta tetap dalam batas-batas tertentu. Selain itu, tumbuhkan juga rasa saling percaya antara orang tua dan anak agar anak dapat menumbuhkan komitmen dari dirinya sendiri.
2.    Kontrol Masyarakat
Masyarakat mempunyai peranan penting dalam mengendalikan kenakalan remaja. Dalam melakukan proses kontrol sosial terkait dalam mengatasi kenakalan remaja bisa dilakukan secara preventif. Beri arahan, bimbingan, nasihat. Bila terjadi perbuatan yang melanggar, beri teguran dan juga sanksi dalam proses pencegahan dan pengendalian remaja dari perilaku menyimpang. Proses pengontrolan yang diberikan masyarakat tidak akan mungkin sepenuhnya mampu berjalan dengan efektif apabila tidak dibantu oleh seluruh warga masyarakat. Seluruh anggota masyarakat mempunyai kesadaran bersama, baik dari dalam diri remaja, keluarga yang memiliki anak remaja, serta seluruh komponen warga masyarakat yang ada agar mampu menciptakan lingkungan yang nyaman dan religius sehingga  tidak terjadi kenakalan remaja.
3.    Edukasi terhadap Pemanfaatan Gadget
Fenomena yang muncul pada era sekarang ini yakni kebebasan dalam menggunakan perangkat gadget. Dimulai dari balita, remaja, dewasa, dan orang tua, semua memanfaatkan perangkat teknologi yang satu ini. Penggunaan gadget tentu saja diikuti dengan berbagai keuntungan dan kerugian. Bagi remaja, gadget memiliki keuntungan sebagai media belajar untuk mencari referensi bahan bacaan untuk mendukung tugas-tugas sekolah, aksesnya lebih luas, proses belajar lebih cepat dengan adanya audio visual, serta materinya bisa dibaca berulang kali. Adapun kerugiannya remaja tersebut menjadi malas berinteraksi dengan lingkungan, malas bergerak, serta boros biaya. Seyogyanya orang tua memberi edukasi terhadap pemanfaatan gadget. Paling tidak konten-konten dalam gadget sering diperiksa oleh orang tua. Jangan sampai anak memiliki konten tayangan porno yang menyebabkan kecanduan menontonnya. Miris sekali bila terjadi sepasang anak yang melakukan hubungan layaknya suami istri sementara mereka tidak tahu akibat dari perbuatan tersebut gara-gara salah memanfaatan gadget.
Kesimpulannya, orang tua harus selalu mendampingi anak-anak. Ciptakan quality time untuk keluarga. Jalin komunikasi yang baik pada setiap anggota keluarga. Beri contoh nyata pada anak-anak kita. Satu teladan lebih baik dari seribu nasihat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here